Surat Terbuka untuk Ibu yang Tengah Berjuang Ekstra di Masa Pandemi. Upahmu Besar di Surga Nanti

8 bulan telah berakhir mulai sejak kasus pertama Corona masuk di negeri ini. Saat menyaksikan ke sekitarmu, rumah sekarang jadi kantor, sekolah, taman bermain, dan tempat berkumpulnya kecapekan yang bersusun di keranjang baju kotor, sink penuh piring sisa digunakan, lantai yang tidak pernah bersih dari potongan lego atau boneka, dan deadline pekerjaan yang tidak dapat diundur.

Belum stop sampai situ, bisa saja kamu sekarang ini mengurusi anak sendirian, mempunyai pasangan yang kehilangan pekerjaan, atau malah harus tinggal berjauh-jauhan untuk keselamatan.

Tidak perduli kamu ibu bekerja atau ibu rumah-tangga, keadaan sekarang ini kemungkinan jadi salah satunya sisi paling susah dibanding sekian tahun kehidupan yang telah berakhir. Tenang, kamu tidak sendirian dan kita akan melalui periode ini dengan senang dan beberapa ratus kali lebih kuat kembali.

Kamu dapat bebas buka pintu rumah kapan pun, tetapi kakimu yang dahulunya gesit tidak dapat kembali mengambil langkah asal-asalan tanpa ‘alat perang’ dan hati khawatir. Sekarang, matahari yang nyaris keluar jadi pertanda jika kamu akan kembali lakukan hal yang itu-itu saja; memandikan anak, mempersiapkan makan pagi, ajaknya bermain, membenahi rumah, rapat kejutan, di ajang yang serupa untuk lomba lari dengan waktu. Rasakan jemu saja mungkin mujur, terkadang hati yang muncul ialah capek yang tidak karuan. Kamu jadi cepat geram, begitu juga dengan pasangan. Tetapi selanjutnya kalian ingat untuk banyak sepakat dan sedikit sama-sama mengalah agar hari dapat terus disudahi dengan sebuah dekapan.

Simpan hati seperti bom saat yang akan meledak kapan pun bila cukup banyak dipisah. Lumrah kamu menyambat dan rasakan kesulitan sebab pengalaman yang semacam ini kemungkinan baru kamu, dan kita, alami untuk pertama kalinya. Buku harian bisa saja rekan sharing yang membahagiakan atau satu waktu menghubungi rekan dapat kamu kerjakan. Suami yang terakhir nampak lebih menjengkelkan mungkin tetap jadi seorang yang mengharap dengar ceritamu. Di satu malam saat situasi hatinya baik, bersandarlah dan berkeluh kesah yang paling sangat nikmat.

error: Content is protected !!